Jumat, 29 Juni 2012

“terima kasih ya Rabb….”


By: Habibullah (Kang Abi) 

Pagi yang begitu menyejukkan kalbu setiap insan yang menghayati. Nada-nada alam beryanyi dengan merdunya. Kumandang adzan yang memanggil setiap jiwa.Begitu indah.Embun-embun mengendap didedaunan, bersemayam dengan teduhnya.Lembut dan jernih. Berlahan mengalirkan diri.dari daun ke-daun hingga ia jatuh ke bumi. Menghilang menyelami pori-pori alam. Orang-orang nampak berjalan menuju suara panggilan Agung. Bapak-bapak nampak berjalan dengan istri dan anak-anaknya.Wajah meraka tanpak berseri-seri dan bersahaja. Itu kegembiraan yang meraka rasakan dengan senantiasa memenuhi panggilan dari sang Khalik. Para Remaja.Pemuda dengan baju koko dan pece hitam dikepala bak mahkota.serta Gadis-gadisnya tampak memperindah pagi dengan sinar berseriwajah yang berselimut mukena putih.merekasatu persatu berdatangan dari sisi jalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah di masjid. Iqomah dikumandangkan.Imam pun mulai membaca surah Al-Fatihah.
Tidak jauh dari masjid.Seorang pemuda yang berwajah kusut.Perkaian jean dan kaos oblong.Matanya sipit dan rambutnya tidak beraturan.Ia terlihat tergesa-gesa menuju masjid. Sepertinya dia mau melaksankan sholat berjamaah dimasjid.Yach itu adalah lah saya.Seorang remaja yang datang dari jauh.Sebut saja pemuda rantau.Kerena sebutan itu yang sering digunakan oleh masyarakat di sekitar kosan saya dengan diriku.Saat ini aku tengah merantau untuk melanjukan studiku. Yack..hari ini adalah hari pengumuman SNMPTN. Itu sangat menegangkan bagiku. Gelisa dan was-was itu lah yang selalu aku rasakan. Dari beberapa nasehat yang aku dengarkan untuk menghindari hal tersebut katanya coba dekatkan diri kepada Allah.Dan memohon pertolongan kepadanya.Nasehat itu datang dari Pak Kamal yang ada disamping kosan saya.Beliau sangat ramah tama.Tutur bahasanya begitu lembut, santun dan penuh percaya diri.Katanya beliau adalah seorang ustad.Aku tidak tahu akan hal itu. Lain halnya kalu ibu Annisa istri beliau, aku tahu persis kalu beliau adalah seorang ustadza karena beliau sering mengajar pengajian ibu-ibu dimasjid dekat kosan saya.merekamempunyai tiga orang anak, dua orang perempuan dan satu orang laki-laki. Husna anak bungsunya masih kelas enam SD. Irfan anak laki-lakinya masih kelas tiga SMP.dan anaknya yang paling tua aku tidak tahu siapa namanya, pak Kamal tidak pernah menceritakan siapa namanya.saat ini dia duduk kelas tiga Aliyah dan dia masuk psantrin di jawa, katanya pak Kamal dia ikut pamannya.
Berawal dari nasehat pak kamal itulah, pagi ini aku mencoba untuk melaksanakan sholat di masjid. Karena ada juga yang mengatakan kalau sholat berjamaah dimasjid itu pahalanya akan lebih bnayak.
Sesampai di masjid aku langsung membersihkan wajah kusamku.dengan tergesa-gesaaku membasahi seluruh rambutku. Dan aku langsung berwudhu.Dingin dan meyejukkan bukan hanya di kulit dan tulangku yang terasa di relung-relung jiwa.Tetapi lebih terasa dihati.Seakan air-air yang membasahi wajahkumeleburkan kepekatannya, aku siram kedua tanganku seakan melepaskan kejenuhannya.Aku basuh kepala dan kedua daun telingaku seakan aku telah memperbaiki retaknya.Dan aku basuh kedua kakiku seakan aku telah menghancurkan bentengnya.Dengan wajah yang tenang aku langsung memasuki masjid.Hatiku damai dan diam. aku merasakan getaran jiwa yang dirasuki dengan iman.Di dalam masjid aku dapati orang-orang telah selesai melaksanakan sholat.Dan aku langsung mengambil posisi.Untuk  melaksanakan sholat sendiri.Aku berdiri tagak menghadap kearah kiblat.Dengan khusu’ lalu aku kumandangkan takbiratu ula.“Allahuakbar..’
****
Seusai sholat aku bergegas mengganti pakaianku.Trining biru dan kaos abu-abu itulah yang aku pakai.Handset terpasang ditelingaku.Dengan alunan music rokers menghantarkan semangat langkah kakiku mengelilingi taman-taman perkotaan.Pagi yang begitu indah.Keringat mulai mulai membasahi tubuhku.Sebelum terlalu banyak dan membanjir.Aku menghentikan lariku.Dan berjalan biasa menelusuri jalanan.Sebelum pulang kekosan aku membeli sebuah Koran local untuk melihat pengumuman SNMPTN. Yach..itulah tak-tik yang aku pergunakan untuk sedikit meredah rasa was-was dan gelisaku yaitu dengan olah raga. sebelum mendapatkan nasehat bahwa sholat juga merupan obat untuk menenangkan jiwa. Olah raga apa saja asal bisa menimbulkan keringat. Karena katanya dengan banyak olah raga mata otot-otot kaku kita akan bergerak dan akan terhindar dari kegelisaan. Tidak tahu benar atau tidak yang pasti aku melakukannya. Terbukti saat aku menghadapi kelulusan waktu SMA tips tersebut ampuh bagiku.
Sesamapai di kosan.Langsung aku buka Koran yang aku beli.dengan mencoba untuk menghilangkan rasa gugupku. Dan berlahan aku cari satu persatu nama-nama orang yang dinyatakan lulus.Rasa was-was itu mulai menghampiri jiwa. Tapi masih dengan teguhnya menyembunyikan ketegangan itu. Dengan sabar aku masih dengan telitinya mencari nama yang sesuai dengan namaku. Dan..“Alhamduliiah” gumamku. “aku lulus”. Rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk menyatakan kesemua orang kalu lulus.Bahagia itu sangat luar biasa aku rasakan.Tubuhku meloncat-loncat dengan girangnya.Dan aku lihat lagi pengumuman itu.Dengan rasa bangga aku tersenyum puas.Tapi seketika itu juga, keningku mengerut kebingungan.Tubuhku mulai gemetar.mungkin tips yang aku gunakan untuk menghindari rasa gugup gagal utuk saat ini. Aku lihat lagi pengumuman itu dengan cermat ternyata benar nomor ujiannya tidak sama dengan nomor ujianku. Dengan rasa putus asa aku masih berharap bahwa namaku ada di dalam daftar tersebut.Aku masih mencarinya.Dan ternyata benar namaku tidak ada.Lalu dengan rasa kesal aku lemparkan Koran itu dengan kerasnya, sehingga tidak beraturan lagi.Aku mulai kebingungan.Aku mencoba untuk menangis tapi itu bukanlah diriku yang manja dan merengik begitu saja saat menerima cobaan, tapi aku tak kuasa memendungnya.Berlahan mataku basah.Aku kebingungan.Dalam keadaan suntuk yang teramat sangat aku terbaring lesu disudut kamar.Mata yan kosong dan diam. Lalu sepintas aku teringat pesan dari pak Kamal.
“Nak.., sholat itu adalah. Jadi bila mana engkau sakit ambillah ia sebagai obatnya. Bila mana engkau gelisa dan gunda maka ambillah ia sebagai penenangnya. Bila mana engkau lapar ambillah ia sebagai pengisi perutmu. Bila engkau sedih maka ambillah ia sebagai penghiburmu. Dan bila mana engkau merasa kesepian maka ambillah ia sebagai temanmu. Serta bila mana engkau merasa butuh sesuatu maka ambillah juga ia, maka ia akan memberimu sagalanya..”
Mengingat pesan itu.Dalam keadaan yang tak punya kekuaatan.Aku menggerakkan tubuhku.Untuk mandi dan setelahnya aku mengambil whudu.Aku merasaan ketenangan dan dingin menyejukkan.Aku berpikir mungkin whudu ini adalah obat.Gundah itu mulai bertebaran meninggalkan diriku.Saraf-saraf tubuhku mulai bergerak.Terlepas dari belenggu kekakuan.Aliran darahku kian dingin.Dengan khusuk aku hadapkan wajahku kearah kiblat.Aku melaksankan sholat.Rasanya ada yang berubah.Aku merasakan ada yang menemani kesendirianku Seakan ada yang tengah menghibur kesedihanku. Dan mulai memberikan apa saja yang aku butuhkan. Seusai sholat, aku sampaikan semua kegundaanku.Mataku bukanlah mata yang bening.Tapi semakin lama mata itu berkaca-kaca.Dan aku mengis.Tapi tidak tahu aku merasakan ketenangan.Begitu tenang.Begitu damai.Jiwaku tidak lagi menjerit dan merintih karena aku merasakan sebungkah hati didalamnya tengah berdzikir.
Seusai sholat aku ganti pakaianku. Dan merapikan kembali koran yang berantakan. Lalu aku baca kembali Koran itu.Tapi aku tidak langsung melihat pengumumanSNMPTN.Aku membaca berbagai macam berita.Kecelakaan, pembunuhan, kemiskinan, koruptur yang kian memperkaya diri.Dan mulai membaca pengumuman kelulusan SNMPTN.Aku membacanya dari awal.13.000 orang lebih yang mengikuti tes tetapi dari sekian itu hanya 3.000 orang lebih saja yang diterima.Lalu aku pun tersyum melihat hal itu.Bukanlah aku sendiri yang yang dinyatakan tidak lulus. Lalu aku juga mulai berpikir, apakah dari sekian banyak yang tidak lulus juga merasakan apa yang aku rasa pada saat ini. Aku pun tersenyum sabar.Lalu aku teruskan membaca ke bagian daftar nama-nama.Jari-jari kecilku menari-menari diatasnya.Terus bergerak dengan lembutnya.Berlahan mengikuti nada-nada jiwanya. Tidak lama kemudian jariku terhenti disalah satu nama. Mata tajamku berbinar mengamatinya.Berlahan nadi memuncak seperti gelombang menghantam kapal-kapal diatasnya.Tubuh kecilku bergetar.Mataku berkaca tidak sadar aku tengah membocorkan tambal-tambal bendungannya. Setetes air bening membasahi pipiku. Lalu berlahan tangan kananku menghampiri dan menghapusnya. Lalu dengan rasa kurang yakin aku lihat lagi nama tersebut. Dan benar itu adalah namaku dan sangat sesuai dengan nomor ujianku.Bibirku pun bergetar.Lalu aku lapaskan rasa syukurku.Dan dengan segera aku bersujud. “terima kasih ya Rabb….”

4 komentar:

  1. blog baru yah kak Habib ?

    bagus kak :)

    ayok semangat menulis .

    jangan lupa berkunjung ke blog ku juga kak .

    follow dan isi buku tamu yahh :)

    hehe

    *sekalian promosi

    http://ezamerza.blogspot.com/

    thankyu kakak :)

    BalasHapus
  2. yah dek.. tp masih tahap belajar. menu_nya masih banyak yang kurang. yah nanti blognya ka2 kunjungi juga.

    BalasHapus
  3. kunjungi jugo bib blog ku
    butuh kritik dan saran
    http://bloggelar.blogspot.com/

    BalasHapus