By: Habibullah (Kang Abi)
Pagi
yang begitu menyejukkan kalbu setiap insan yang menghayati. Nada-nada alam
beryanyi dengan merdunya. Kumandang adzan yang memanggil setiap jiwa.Begitu
indah.Embun-embun mengendap didedaunan, bersemayam dengan teduhnya.Lembut dan
jernih. Berlahan mengalirkan diri.dari daun ke-daun hingga ia jatuh ke bumi. Menghilang
menyelami pori-pori alam. Orang-orang nampak berjalan menuju suara panggilan
Agung. Bapak-bapak nampak berjalan dengan istri dan anak-anaknya.Wajah meraka
tanpak berseri-seri dan bersahaja. Itu kegembiraan yang meraka rasakan dengan
senantiasa memenuhi panggilan dari sang Khalik. Para Remaja.Pemuda dengan baju
koko dan pece hitam dikepala bak mahkota.serta Gadis-gadisnya tampak
memperindah pagi dengan sinar berseriwajah yang berselimut mukena putih.merekasatu
persatu berdatangan dari sisi jalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat
shubuh berjamaah di masjid. Iqomah dikumandangkan.Imam pun mulai membaca surah
Al-Fatihah.
Tidak
jauh dari masjid.Seorang pemuda yang berwajah kusut.Perkaian jean dan kaos
oblong.Matanya sipit dan rambutnya tidak beraturan.Ia terlihat tergesa-gesa
menuju masjid. Sepertinya dia mau melaksankan sholat berjamaah dimasjid.Yach
itu adalah lah saya.Seorang remaja yang datang dari jauh.Sebut saja pemuda
rantau.Kerena sebutan itu yang sering digunakan oleh masyarakat di sekitar
kosan saya dengan diriku.Saat ini aku tengah merantau untuk melanjukan studiku.
Yack..hari ini adalah hari pengumuman SNMPTN. Itu sangat menegangkan bagiku.
Gelisa dan was-was itu lah yang selalu aku rasakan. Dari beberapa nasehat yang
aku dengarkan untuk menghindari hal tersebut katanya coba dekatkan diri kepada
Allah.Dan memohon pertolongan kepadanya.Nasehat itu datang dari Pak Kamal yang
ada disamping kosan saya.Beliau sangat ramah tama.Tutur bahasanya begitu
lembut, santun dan penuh percaya diri.Katanya beliau adalah seorang ustad.Aku
tidak tahu akan hal itu. Lain halnya kalu ibu Annisa istri beliau, aku tahu
persis kalu beliau adalah seorang ustadza karena beliau sering mengajar
pengajian ibu-ibu dimasjid dekat kosan saya.merekamempunyai tiga orang anak,
dua orang perempuan dan satu orang laki-laki. Husna anak bungsunya masih kelas
enam SD. Irfan anak laki-lakinya masih kelas tiga SMP.dan anaknya yang paling
tua aku tidak tahu siapa namanya, pak Kamal tidak pernah menceritakan siapa
namanya.saat ini dia duduk kelas tiga Aliyah dan dia masuk psantrin di jawa,
katanya pak Kamal dia ikut pamannya.
Berawal
dari nasehat pak kamal itulah, pagi ini aku mencoba untuk melaksanakan sholat
di masjid. Karena ada juga yang mengatakan kalau sholat berjamaah dimasjid itu
pahalanya akan lebih bnayak.
Sesampai
di masjid aku langsung membersihkan wajah kusamku.dengan tergesa-gesaaku membasahi
seluruh rambutku. Dan aku langsung berwudhu.Dingin dan meyejukkan bukan hanya
di kulit dan tulangku yang terasa di relung-relung jiwa.Tetapi lebih terasa
dihati.Seakan air-air yang membasahi wajahkumeleburkan kepekatannya, aku siram
kedua tanganku seakan melepaskan kejenuhannya.Aku basuh kepala dan kedua daun
telingaku seakan aku telah memperbaiki retaknya.Dan aku basuh kedua kakiku
seakan aku telah menghancurkan bentengnya.Dengan wajah yang tenang aku langsung
memasuki masjid.Hatiku damai dan diam. aku merasakan getaran jiwa yang dirasuki
dengan iman.Di dalam masjid aku dapati orang-orang telah selesai melaksanakan
sholat.Dan aku langsung mengambil posisi.Untuk melaksanakan sholat sendiri.Aku berdiri tagak
menghadap kearah kiblat.Dengan khusu’ lalu aku kumandangkan takbiratu ula.“Allahuakbar..’
****
Seusai
sholat aku bergegas mengganti pakaianku.Trining biru dan kaos abu-abu itulah
yang aku pakai.Handset terpasang ditelingaku.Dengan alunan music rokers
menghantarkan semangat langkah kakiku mengelilingi taman-taman perkotaan.Pagi
yang begitu indah.Keringat mulai mulai membasahi tubuhku.Sebelum terlalu banyak
dan membanjir.Aku menghentikan lariku.Dan berjalan biasa menelusuri
jalanan.Sebelum pulang kekosan aku membeli sebuah Koran local untuk melihat pengumuman
SNMPTN. Yach..itulah tak-tik yang aku pergunakan untuk sedikit meredah rasa
was-was dan gelisaku yaitu dengan olah raga. sebelum mendapatkan nasehat bahwa
sholat juga merupan obat untuk menenangkan jiwa. Olah raga apa saja asal bisa
menimbulkan keringat. Karena katanya dengan banyak olah raga mata otot-otot
kaku kita akan bergerak dan akan terhindar dari kegelisaan. Tidak tahu benar
atau tidak yang pasti aku melakukannya. Terbukti saat aku menghadapi kelulusan
waktu SMA tips tersebut ampuh bagiku.
Sesamapai
di kosan.Langsung aku buka Koran yang aku beli.dengan mencoba untuk
menghilangkan rasa gugupku. Dan berlahan aku cari satu persatu nama-nama orang
yang dinyatakan lulus.Rasa was-was itu mulai menghampiri jiwa. Tapi masih
dengan teguhnya menyembunyikan ketegangan itu. Dengan sabar aku masih dengan
telitinya mencari nama yang sesuai dengan namaku. Dan..“Alhamduliiah” gumamku.
“aku lulus”. Rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk menyatakan
kesemua orang kalu lulus.Bahagia itu sangat luar biasa aku rasakan.Tubuhku
meloncat-loncat dengan girangnya.Dan aku lihat lagi pengumuman itu.Dengan rasa
bangga aku tersenyum puas.Tapi seketika itu juga, keningku mengerut
kebingungan.Tubuhku mulai gemetar.mungkin tips yang aku gunakan untuk
menghindari rasa gugup gagal utuk saat ini. Aku lihat lagi pengumuman itu
dengan cermat ternyata benar nomor ujiannya tidak sama dengan nomor ujianku.
Dengan rasa putus asa aku masih berharap bahwa namaku ada di dalam daftar
tersebut.Aku masih mencarinya.Dan ternyata benar namaku tidak ada.Lalu dengan
rasa kesal aku lemparkan Koran itu dengan kerasnya, sehingga tidak beraturan
lagi.Aku mulai kebingungan.Aku mencoba untuk menangis tapi itu bukanlah diriku
yang manja dan merengik begitu saja saat menerima cobaan, tapi aku tak kuasa
memendungnya.Berlahan mataku basah.Aku kebingungan.Dalam keadaan suntuk yang
teramat sangat aku terbaring lesu disudut kamar.Mata yan kosong dan diam. Lalu sepintas
aku teringat pesan dari pak Kamal.
“Nak..,
sholat itu adalah. Jadi bila mana engkau sakit ambillah ia sebagai obatnya.
Bila mana engkau gelisa dan gunda maka ambillah ia sebagai penenangnya. Bila
mana engkau lapar ambillah ia sebagai pengisi perutmu. Bila engkau sedih maka
ambillah ia sebagai penghiburmu. Dan bila mana engkau merasa kesepian maka
ambillah ia sebagai temanmu. Serta bila mana engkau merasa butuh sesuatu maka
ambillah juga ia, maka ia akan memberimu sagalanya..”
Mengingat
pesan itu.Dalam keadaan yang tak punya kekuaatan.Aku menggerakkan tubuhku.Untuk
mandi dan setelahnya aku mengambil whudu.Aku merasaan ketenangan dan dingin
menyejukkan.Aku berpikir mungkin whudu ini adalah obat.Gundah itu mulai
bertebaran meninggalkan diriku.Saraf-saraf tubuhku mulai bergerak.Terlepas dari
belenggu kekakuan.Aliran darahku kian dingin.Dengan khusuk aku hadapkan wajahku
kearah kiblat.Aku melaksankan sholat.Rasanya ada yang berubah.Aku merasakan ada
yang menemani kesendirianku Seakan ada yang tengah menghibur kesedihanku. Dan
mulai memberikan apa saja yang aku butuhkan. Seusai sholat, aku sampaikan semua
kegundaanku.Mataku bukanlah mata yang bening.Tapi semakin lama mata itu
berkaca-kaca.Dan aku mengis.Tapi tidak tahu aku merasakan ketenangan.Begitu
tenang.Begitu damai.Jiwaku tidak lagi menjerit dan merintih karena aku
merasakan sebungkah hati didalamnya tengah berdzikir.
Seusai
sholat aku ganti pakaianku. Dan merapikan kembali koran yang berantakan. Lalu
aku baca kembali Koran itu.Tapi aku tidak langsung melihat pengumumanSNMPTN.Aku
membaca berbagai macam berita.Kecelakaan, pembunuhan, kemiskinan, koruptur yang
kian memperkaya diri.Dan mulai membaca pengumuman kelulusan SNMPTN.Aku
membacanya dari awal.13.000 orang lebih yang mengikuti tes tetapi dari sekian
itu hanya 3.000 orang lebih saja yang diterima.Lalu aku pun tersyum melihat hal
itu.Bukanlah aku sendiri yang yang dinyatakan tidak lulus. Lalu aku juga mulai
berpikir, apakah dari sekian banyak yang tidak lulus juga merasakan apa yang
aku rasa pada saat ini. Aku pun tersenyum sabar.Lalu aku teruskan membaca ke
bagian daftar nama-nama.Jari-jari kecilku menari-menari diatasnya.Terus
bergerak dengan lembutnya.Berlahan mengikuti nada-nada jiwanya. Tidak lama
kemudian jariku terhenti disalah satu nama. Mata tajamku berbinar
mengamatinya.Berlahan nadi memuncak seperti gelombang menghantam kapal-kapal diatasnya.Tubuh
kecilku bergetar.Mataku berkaca tidak sadar aku tengah membocorkan
tambal-tambal bendungannya. Setetes air bening membasahi pipiku. Lalu berlahan
tangan kananku menghampiri dan menghapusnya. Lalu dengan rasa kurang yakin aku
lihat lagi nama tersebut. Dan benar itu adalah namaku dan sangat sesuai dengan
nomor ujianku.Bibirku pun bergetar.Lalu aku lapaskan rasa syukurku.Dan dengan
segera aku bersujud. “terima kasih ya Rabb….”
blog baru yah kak Habib ?
BalasHapusbagus kak :)
ayok semangat menulis .
jangan lupa berkunjung ke blog ku juga kak .
follow dan isi buku tamu yahh :)
hehe
*sekalian promosi
http://ezamerza.blogspot.com/
thankyu kakak :)
yah dek.. tp masih tahap belajar. menu_nya masih banyak yang kurang. yah nanti blognya ka2 kunjungi juga.
BalasHapusbagus bib tulisannya
BalasHapuskunjungi jugo bib blog ku
BalasHapusbutuh kritik dan saran
http://bloggelar.blogspot.com/